Sabtu, 24 Mei 2014

Kalau Sudah di Dalam “Lupa” Dech….

Jum’at, 24 February 2012 (re-publish)

Saya bukan pengguna BB (Blackberry) atau smartphone lainnya seperti sebagian orang yang terkadang latah sekedar untuk tidak mau dikatakan gatek. Saya juga bukan pengguna computer canggih atau gadget-gadget terbaru yang memudahkan pemakainya berhubungan dengan siapa saja termasuk dengan dunia maya dan social media. PC desktop dan HP ku dirumah adalah barang-barang yang tergolong jadul, kata orang. Entah sudah berapa tahun mereka menemaniku, sampai kadang-kadang kasihan dengan ke-renta-annya. Mestinya sudah layak mereka diremajakan/ugrade tapi boro-boro buat upgrade, kalau ada dana mah mendingan buat bayar hutang hehe… Itulah makanya respon saya dengan sesuatu (sms/update twitter/FB/email) tidak bisa real time tapi sering terlambat berjam-jam bahkan kadang berbilang hari, tergantung seberapa cepat saya berhubungan dengan alat-alat jadul-ku itu.

Seperti biasanya, kalau sedang di depan computer dan akses internet, disamping menu ‘wajib’ku, saya sempatkan melirik twitterland dan facebook, sekedar memenuhi nafsu melahap informasi dan melihat teman-teman yang pada narsis pengin terkenal, hehe. Saking ngebetnya pengin dikenal sampai-sampai bangun tidur dan mau tidur lagi pun kurang lengkap kalau tidak “menyapa” teman-teman, begitu seringnya yang kubaca. Dahsyatnya lagi, mau shalat malam/tahajud-pun mesti memberitahu followers/friends nya dulu, seakan tidak cukup hanya Allah saja yang tahu. Yang terakhir ini biasanya gawean para aktifis dakwah. Katanya “kan berpahala kalau kita saling membangunkan untuk tahajud lewat twitter ato FB”, atau “semua amal tergantung niatnya”, atau “tidak ada salahnya kan media social kita pakai untuk berdakwah”, dan lain sebagainya. Apalagi fenomena dunia arab yang ‘menggeliat’ dari kungkungan para tirani dictator tidak lepas dari peran social media. Meski pendahulu mereka dalam dakwah, Imam Hasan Al-Banna, dikisahkan saat malam bersama sahabatnya, berkali-kali memanggil nama sahabat beliau sekedar untuk memastikan sahabat itu sudah tidur sehingga sang imam bisa shalat malam tanpa diketahui sahabatnya itu. Sedemikian ‘malu’ seorang imam Hasan al-Banna kalau shalat malamnya diketahui orang lain. Sangat berbeda dengan aktifis dakwah belakangan ini ya? Apalagi yang sedang ‘keranjingan’ media baru itu, bisa saja terbuai dengan nafsu berangan-angan dengan nostalgia, reuni, bahkan CLBK maupun CBMB dilakoninya.

Namun hari ini agak heran saya melihat email forward dari facebook yang masuk di inbox outlook saya yang hampir saja terlewat karena terselip diantara ratusan email yang masuk setiap hari dari berbagai milist yang saya ikuti. Karena seringnya saya surfing terlebih dahulu untuk meng-antri-kan unduhan di scheduler internet download manager, maka biasanya informasi tentang FB lebih dahulu saya peroleh via browser ketimbang lewat email di outlook. Kecuali kalau lagi males surfing dan antrian unduhan masih bejibun, info FB biasanya cukup saya baca di outlook. Tapi hari ini ada email FB yang saya baca tertera jam 22.30 berupa komentar tapi saya tidak bisa membalasnya. Saat saya cek dibrowser firefox ternyata sudah terhapus. Kok bisa? Ternyata status saya kemarin lusa itu adalah share dari status teman. Dan ketika status teman yang saya share dihapus oleh si empunya status, hilang juga status-share-ku berikut dengan komentar-komentar teman-temanku. Padahal status temanku itu meski secara isi sama tapi berbeda maksud dengan tajuan saya nge-share. Kalau si empunya status, menurut saya lebih kepada perilaku anggota dewan yang sering plesiran dengan kedok kunker, bintek, studi banding dan lain-lain namun mengambil contoh kasus anggota dewan yg pernah menangis di hadapan pengurus partainya. Sedangkan tujuan saya nge-share status tsb adalah lebih kepada “persoalan” kekompakan dari anggota dewan tsb dengan teman-teman se-partai dan atau se-fraksinya. Bahkan saya khawatir “persoalan” itu bukan lagi sekedar kekompakan (managemen informasi) tapi sudah lebih parah menyentuh persoalan ukhuwwah sesama muslim. Apalagi partai mereka adalah partai dakwah, katanya. Mestinya sebelum mereka berdakwah tentang ukhuwwah, tentang amal jama’i, tentang berjama’ah dan berpartai, dan banyak lagi tentang-tentang lainnya, contohkan dan lakukan dulu semua itu di diri dan komunitas mereka. Bukankah kaburo maktan indaLLohi an taqulu ma laa taf’alun ?

Adalah “Kuda Hitam” (http://www.facebook.com/profile.php?id=100003356351506) email: adiputro_90@yahoo.com yang pertama kali saya baca statusnya di Group Gerakan Melawan Tirani untuk Kemakmuran Rakyat (GMTuKR) http://www.facebook.com/groups/216968725003935/ dengan sebuah comment dari “Ir Kuna” (http://www.facebook.com/profile.php?id=100000582541109) dan 6 thumblers termasuk saya, pada Selasa 21 Februari 2012 sebagai berikut:
Kuda Hitam
Saya dpt kabar ada anggota DPRD yg pernah menangis dihadapan para pengurus partainya ia merasa terbebani moralnya karena mengikuti kunjungan kerja keluar kota yang menghabiskan anggaran yang tidak sedikit, eh tahu tahunya hanya sandiwara belaka. Hari ini yang bersangkutan lagi ikut kunker pansus II yang kedua kalinya padahal aturannya pansus hanya boleh kunjungan keluar kota sekali saja.
Unlike · · Follow Post · Tuesday at 3:12pm
Namanya saja pansus, jadi masalah kedua dan ke seberapapun, wong namanya khusus.....ya ndak masalah...itu pikiran mereka....padahal biaya pansus, kunker, bintek dan segala macamnya sangat membebani APBD, dan itu jg hasil mencekik leher Rakyat dg kebijakan yg tidak bijak dg segala perwal, perda dan tetek bengeknya....biarlah mereka anggota legeslatif bersenang senang dg pansus nya...rakyat yg menderita dg beban pajaknya, denda, parkir dsb....
Tuesday at 4:15pm via mobile · Like · 3

Dan dengan redaksional  yang persis sama ternyata status tsb juga ada di wall/dinding Kuda Hitam. Hari Rabunya saya share status yang ada di dinding Kuda Hitam dengan mention beberapa orang teman FB saya, termasuk Kuda Hitam sebagai ijin tentunya. Tapi entah kenapa hari ini status tersebut sudah dihapus dari dinding Kuda Hitam, tapi yang di wall group GMTuKR belum dihapus, sehingga saya bisa copy-paste disini. Sampai dengan saya unggah tulisan ini, belum ada penjelasan dari Kuda Hitam. Jadi dengan maksud sebagai record status saya tsb saya tuliskan kembali arsip yang ada di email forward dari FB.

Adapun share status Kuda Hitam yang saya posting Rabu  22/02/2012 adalah sebagai berikut:

[posting update status & re-comment saya tidak terecord ke email, jadi hanya hasil meningat-ingat kembali saja, sedangkan comments temans tertulis sebagaimana aslinya, demikian]

Comment:

Ary Ortega wrote: "Wah berarti pandai berakting jg ya . .knapa gak jd aktor aja skalian . . . .hehehehe"

Rudi Hartono wrote: aktor apa Ry? aktor goyang gayung?

Erni Ratnani wrote: "mmg dlm dakwah muasasi banyak hal2 yg bertentangan dengan sanubari kita, banyak pilihan2 sulit yg harus kita putuskan segera, butuh salamatush shodr dan lapang dada serta fiqhul awlawiyat dalam segala keputusan, juga butuh kearifan dan pemahaman yg mendalam dalam menilai sebuah keputusan. kalau memang bertentangan dgn syari'at jelas harus ditinggalkan, jazakalloh khoir"

Agus Sofyan wrote: "primen kabare akh?"

Rudi Hartono wrote:  alhamdulillah baik. antum sekarang di jkt atau sby?

Agus Sofyan wrote: "saya sekarang mbalik lagi ke surabaya, alhamdulillah kumpul lagi sama keluarga"
 
Mohamad Irfan Wijanadi wrote: "assalamu alaikum, apa kabar Pa?"

Rudi Hartono wrote:  alhamdulillah baik. kiye lekun "bregas" temenanan. seputar brebes-tegal-slawi maksude....

Agus Kharir wrote: "@akhinal Kiram Rudi,.... sy sepakat dg bu Erni... dan yg perlu kita lakukan adalah tabayyun ttg anggota DPR yg "menangis di hadapan pengurus partainya" karena inilah yg akan menjadikan bobot ma'na yg berbeda,... dan nuansa ukhuwwah dan husnudzon barangkali jg perlu dikedepankan,.... Wallahu 'a lam bis showab...."

Rusman Abdulloh wrote: "Ari jare inyong tah kabeh kudu jelas info ne sing endi? Sing sapa? Wong sing nulis be ora jelas,ilokan ana wong sing arane kuda hitam?"
Rusman Abdulloh wrote: "Ari sing nulis @ Agus kharir jelas,wong slawi wetan,guru nang SD INPRES.@ Rudi Hartono ya jelas wong Margadana,Fotone ya jelas,lawas mbuh apa."
 
Abahe Azzam wrote: "rame nemen ana apa ya...maring tirus bae yuuh,apa maring blengongan kr nggawa tahu kiwil sing panas,ben rahat owh......."

Rudi Hartono wrote:  panganan bae bos! angger aku tah ora bisa nolak angger diajak, kecuali angger gon ngejak tah mikir2 ndisit, hehe...

Abahe Azzam wrote: "lah kuwe mas,acara untu ndisit nembe mlebu intine dadine rahat owh...angger lg nglemprak bareng tah katon sing ngomonge bener2 kr sing basa basi tok,hahahahaha....wulan ngarep tek pasna jadual dines nang jkt wes ya...temenan kiye!"

Rudi Hartono wrote:  'keyakinan'ku tetap tidak berubah om, angger diajak ora bisa nolak.

Abahe Azzam wrote: "muga2 bs ketemu kabeh,laskar bregas ya mas,ben ora klumprak-klumpruk bae,hahahahahaha...."

Rudi Hartono wrote:  jare pak Toto: ngece !!! pengin re-comment maring penguasa wilayahe, al-ustadz @Rusman Abdulloh: angger nembe pertama kali tah wejangan qiyadah KDD9 layak direnungkan, tapi angger wis beberapa kali (yang ini kedua kalinya yang saya tahu keluar ke publik, entah yg saya terlewat darinya, maklum saya gak mengikuti) kayaknya layak mendapat perhatian khusus. Kalau memang "persoalan" itu ada dihadapan kita, rasanya siapa yang pertama cerita/nulis sudah kehilangan prioritas pertamanya. Kata ust. Musyaffa di dakwatuna.com: "Pepatah mengatakan: orang pintar cukup diberi isyarat".

Abahe Azzam wrote: "ya wes,dijak ya komandane..."

Darni Imaduddin wrote: "ngikuti komentare dadi pengn nimbrung..eh usul dink,.....yen JELAS TUR KENAL njagong bareng terus ngobrol malah cepet rampung yo..."

Rudi Hartono wrote:  bukankah setelah aleg yang tidak ikut ke Bali komentar di media/koran, dijawab oleh salah satu aleg yang ikut ke Bali di media/koran/facebook, terus ente-ente (jelas tur saling kenal) pada njagong bareng terus ngobrol sampai jare ana sing nangis ana apa, karena beban moral, daning sampai saiki ora rampung-rampung pak? itulah makanya ketika membaca status Kuda Hitam saya jadi kaget, DANING ORA RAMPUNG-RAMPUNG??? toli pan sampai kapan???? Antum dongene ambil peran pak? Aja cuma ikut kemana angin berhembus pak. Saatnya kesenioran Antum dibutuhkan sekarang. Tampilah sebagai penengah yang adil!!!!


Sayangnya comment pak Darni baru saya ketahui setelah status Kuda Hitam dihapus, jadi status saya yang berupa share-status dia otomatis ikut terhapus berikut comment & re-comment-ku.

Sebagaimana diawal posting saya jelaskan bahwa kemungkinan maksud & tujuan saya berbeda dengan Kuda Hitam. Saya sedikit banyak mengetahui karakteristik teman-teman PKS Kota Tegal karena saya pernah membersamai mereka dengan "damai" selama lebih kurang 3 tahun. Meminjam istilah yang pernah saya dengar & baca dari Al-Mukarrom Agus Kharir, bahwa orang yang akan masuk ke dalam WC umum biasanya banyak komentar tentang "kejelekan" WC umum, tapi begitu dia masuk dan melepas hajatnya, terkadang lupa akan kondisi sebenarnya. Mungkin perumpamaan seperti itulah saya mengangkat hal ini. Antum-antum yang sudah di dalam lupa dech.......



Inbox FB ke Kuda Hitam----------------------------------------------------------------------------------
Status 21/2/2012 nya kok dihapus? ada yang keberatan? atau protes? masalahnya saya kemarin share status tersebut dengan me-mention Anda dengan maksud sekalian ijin. Tapi sekarang status tersebut hilang berikut komentar dan jawaban2 saya yg sudah cukup panjang. Meskipun saya punya record nya di email tapi kok sayang yah kalau yang asli sekarang gak ada. kesannya saya gak gentle dengan menghapus status tsb. padahal status tsb hilang otomatis dengan dihapusnya status Anda.

Kalau boleh tahu lebih siapa Anda saya mungkin akan lebih bisa memahami. Tapi yang mungkin perlu Anda tahu, tujuan Anda lebih umum tentang perilaku dewan, sedang tujuan saya share lebih kepada internal PKS kota tegal yg dulu dengan susah payah saya bangun tp sekarang agak berantakan hubungan antar individunya. itu point yang ingin saya perbaiki dengan menshare status Anda.

Rabu, 15 Februari 2012

Tidak Ada Mantan Murobbi


Entah sudah berapa lama saya tidak bertemu dengan dua orang murabbi saya itu. Yang satu,  secara langsung dengan ‘telaten’ membimbing saya mendalami al-islam, agama yang saya anut sejak lahir namun baru kuseriusi untuk mengenalinya setelah dua puluh kemudian. Sedang yang satu lagi secara tidak langsung banyak mengajari saya tentang hidup mengalir bersama islam. Yang satu, adalah murabbi kelima saya dari sudut pandang organisasi dakwah, sedang yang satunya entah murabbi ke berapa puluh atau ke berapa ratus, karena mereka-mereka yang dengan sadar atau tidak mengajari saya tentang hidup ini kaitannya dengan al-islam, saya anggap sebagai murabbi saya.

Yang satu karena umur biologis maupun umur tandzim, kafa’ah, kepandaian dan lain-lain secara organisasi dakwah adalah mumpuni, maka posisi hirarkinya selalu berada ‘diatas’ saya, sehingga tidak susah dan wajar untuk saya memposisikan beliau sebagai murabbi saya dalam hampir semua hal. Sementara yang satunya, meski umur biologis dan umur tandzimnya di atas saya namun entah karena parameternya salah atau mungkin ikhwah yang menggunakan parameter itu yang salah sehingga pernah dalam sekian tahun periode pembinaan organisasi dakwah, beliau yang notabene adalah murabbi saya, secara hirarki adalah ‘anak buah’ saya. Namun secara prinsip beliau tetap murabbi saya.

Dalam banyak hal posisi istri saya dengan istri-istri dari dua murabbi saya itu, mempunyai kesamaan. Istri saya adalah mad’u dari istri dua murabbi saya tersebut. Sehingga sering silaturahmi saya dan atau istri saya adalah kesempatan untuk kembali menimba ilmu dari beliau-beliau tersebut. Adalah istri saya yang cukup sering menyempatkan diri berkunjung ke salah satu murrabiyyahnya itu disela-sela agenda di tegal. Bahkan di hari jilbab internasional (hari valentine kata orang) dengan semangat istri minta saya mengantarnya keluar kota untuk menengok salah satu murabbiyahnya yang dirawat di rumah sakit pasca operasi. Selang sehari dia ke murabbiyyah satunya yang ternyata anaknya sedang sakit dan perlu juga dioperasi. Dalam waktu hampir bersamaan saya dan istri mendapati musibah sedang menguji dua keluarga ‘guru-guru’ kami tersebut. Namun sedih rasanya kami berdua tidak bisa membantu meringankan beban itu selain dengan do’a-do’a kami saja.

Lebih membuat kami sedih sebenarnya adalah kisah yang kami dengar dari salah satu keluarga murabbi kami tersebut. Selain ujian kesehatan anaknya yang sedang beliau hadapi, ada perlakuan ikhwah yang membuat beliau sakit hati. Dengan posisi dan jabatan organisasi dakwah yang sering orang menyebut sebagai qiyadah dakwah di level daerah, tempat murabbi saya tinggal, seorang ustadz muda lengkap dengan titel syari’ahnya menasehati tentang tidak wajibnya mencari nafkah bagi seorang istri. Sebuah nasehat yang mungkin benar dari sisi materi tapi salah sasaran dari sisi siapa yang dinasehati. Bagaimana mungkin telinga sehat akan bisa menerima nasehat itu, sementara susah payah istri membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga yang sehari-hari saja sudah jungkir balik beliau suami istri (murabbi saya tersebut) mengorbankan beberapa hak yang semestinya dipenuhi. Baik hak anak-anak atas waktu mereka, maupun hak agenda-agenda dakwah yang sering berbenturan dengan waktu beliau-beliau mencari maisyah. Apatah lagi dengan kondisi kesehatan anaknya yang membutuhkan biaya operasi yang tidak sedikit tentunya. Alih-alih membantu meringankan, justru yang diperoleh nasehat agar sang istri tidak sering absent dalam agenda dakwah karena tidak ada kewajiban mencari nafkah bagi seorang istri. Sementara fakta disekitarnya, ada istri-istri secara materi sudah dicukupi suami tapi mereka tetap mengejar karir sampai-sampai sering terlambat bahkan ijin LU, namun tidak dinasehati oleh ustadz muda ini. Mungkin karena strata suaminya yang di atas ustadz muda ini jadi kayak pisau, tajam ke bawah tapi tumpul ke atas.

Sementara capaian-capaian organisasi dakwah yang dulu dengan susah payah beliau ikut merintisnya, sekarang sudah mulai banyak mengantarkan perbaikan ekonomi para kader-kadernya yang notabene adalah para mad’u beliau, murabbi saya yang satu tersebut. Namun dengan ukuran/parameter yang ditetapkan oleh oraganisasi dakwah, beliau masuk dalam jajaran yang “tidak bisa menikmati” secara langsung, sementara justru himpitan kesulitan dan hutang yang melilit kehidupan beliau ditambah dengan karakter beliau yang keras sehingga sering disalah pahami ikhwah yuniornya. Padahal kalau saya teringat jasa beliau yang merupakan salah satu dari ‘assabiqunal-awwalun’-nya daerah tempat beliau tinggal, sangat layak untuk beliau dikafalahi sekedar untuk meringankan beban hidup beliau dan keluarganya. Sementara para ‘assabiqunal-awwalun’ lainnya dimudahkan Allah dengan “menikmati” hasil jerih payah rintisan yang beliau-beliau tanam dahulu. Bahkan sebagian mereka yang tidak ikut merasakan “nikmat”nya menanam-pun sekarang ikut merasakan manisnya buah hasil panen itu. Wallahu a’lam.

Melihat kondisi salah satu murabbi saya dengan sikap qiyadah dakwah di daerahnya, saya jadi teringat tulisan seorang doctor IPB tentang “Mari Berbicara Kesederhanaan; Bagian 2. Otensitas dan Relevansi” yang saya kutip bagian akhirnya saja, karena sang doctor hanya membolehkan kami membaca dan melarang menyebar luaskan tulisan tersebut, mudah-mudahan kalau mengutip sebagiannya tidak termasuk yang dilarang, hehe…
Apakah anda mengira kesederhanaan itu dilakukan karena ia (Umar bin Khatab) ingin mengalami “moksa” dan kebahagian eskatism ala para sufi.  Kesederhanaan beliau itu punya relevansi yang sangat kuat terhadap kemenangan dakwah yang spektakuler tersebut;
1) ekspansi dakwah yang spektakuler itu membutuhkan soliditas internal yang sangat prima, dan tidak mungkin soliditas seperti itu terjadi kalau kesenjangan antara “the have” dan “the have not” hadir bahkan tampak vulgar dalam kehidupan nyata.
2) Ghanimah adalah keniscayaan output dari ekspansi jihad/dakwah. perebutan ghanimah (harta) dalam ekspansi jihad adalah penyebab postulatik yang akan merubah kemenangan menjadi kekalahan, perang uhud telah membuktikan hal tersebut bahkan dicatat dalam al-qur’an untuk menjadi peringatan abadi bagi para da’i sepanjang zaman.
Beliau radhiyallahu anhu ingin menunjukkan pencapaian-pencapaian ghanimah tidak indentik dengan pencapaian-pencapaian kenikmatan dunia. Sehingga dengan demikian konflik karena perebutan ghanimah kehilangan momen untuk hadir di tengah para mujahid.
Saya yakin, anda dan saya tidak punya kapasitas otensitas dan relevansi yang sangat prima kontribusinya terhadap pencapaian prestasi dakwah sekaliber Umar r.a ketika berbicara tentang urgensi kesederhanaan.  itu wajar dan sangat bisa diterima.
Yang menjadi masalah itu adalah ketika secara sadar kita ingin menghilangkan otensitas dan relevansi itu dalam diri kita sehingga kita tidak perlu berbicara tentang urgensi kesederhanaan sebagai faktor penyebab penting kemenangan dakwah.  Itulah yang saya rasakan maka saya paksa diri saya bicara tentang urgensi kesederhanaan sebagai faktor penting kemenangan dakwah
Ya, Allah mudahkanlah urusan murabbi-murabbi saya itu. Meski yang satu terlihat dalam pandangan dhoif saya tidak bisa leluasa ikut menikmati capaian-capaian kerja rintisan mereka dibanding murabbi saya yang satunya, tapi saya yakin keduanya ada dalam skenarioMu ya Allah. Engkau Maha Adil mengatur kehidupan hamba-hambaMu, apatah lagi beliau-beliau adalah para pembela agamaMu ya Allah. Harmonikan hubungan keduanya, juga dengan ikhwah yuniornya, ya Allah. Kuatkan ikatan hati kami, sehingga saya bisa selalu menimba ilmuMu dengan perantara para murabbiku itu, meski kami tidak lagi dalam satu wadah organisasi, amin….

Rabu, 24 Agustus 2011

Kuliah Menjemput Hidayah

 
Terlahir dari keluarga abangan coret, aku terdidik dengan rambu-rambu Islam yang sangat minim, untuk tidak mengatakan preman atau liar atau apalah namanya. Sholat, puasa Ramadhan dan ritual Islam lainnya kulalui biasa nyaris tanpa goresan makna yang berarti dalam memory kepalaku.

Satu hal yang kusyukuri dari abangannya keluargaku adalah karena bukan abangan totok tapi abangan coret. Sehingga keluargaku jauh dari praktek-praktek syirik dalam mencari rizqi maupun bila ada hajatan tertentu. Ditambah sifat pemaluku yang cukup dominan, alhamdulillah berhasil menjagaku dari trend pacaran yang umum dilakukan teman-teman sebayaku. Padahal kakak perempuanku dikenal sebagai bunga desa. Sampai guru SD-nyapun ikut me'macari'nya. Tak terhitung pemuda kampung yang kadang minta tolong aku menyampaikan surat atau salam untuk kakak-ku.

Kisah pacaran yang sampai sekarang masih kuingat, temen sebangku sewaktu aku SMA hampir setiap Sabtu minta ditentir soal matematika agar malam Minggu bisa apel sambil ngajari sang do'i (yang masih satu SMA) pelajaran matematika yang jadi momok saat SMA karena gurunya terkenal killer. Hari Senin paginya giliran aku mendengarkan keberhasilan dia berpacaran, meski sekedar baru saling pegang-pegang tangan pun dia ceritakan. Maklum ini cerita tahun 1990-an.

Banyak lagi sebenarnya kekonyolan-kekonyolan yang aku alami dan lakukan masa itu, tapi sebagaimana petuah ustadz, aib yang sudah Allah tutupi kenapa mesti aku buka sendiri, hehe....

SMA kulalui dengan prestasi akademik yang lumayan baik walaupun tidak masuk jajaran sepuluh besar, namun ada kebanggaan tersendiri karena semua kulalui dengan usaha sendiri. Ini baru kuketahui dari cerita istriku, bahwa guru matematika yang terkenal killer itu menyelenggarakan LES yang ternyata diikuti oleh temen-temenku yang notabene punya ranking disekolah. Dan praktek LES itu ternyata tidak fair, dengan bocoran dan perlakuan beda antara yang LES dan yang tidak. Tapi dasar aku kuper atau lugu atau culun yah, baru tahu setelah menikah, hampir setelah duapuluh tahun kemudian, ck..ck..ck..

Lulus dengan prestasi biasa, informasi minim dan memang aku bukan aktivis, akhirnya aku ikuti ajakan Heri Sugiharto dan Mohammad Churiyanto, dua temanku yang bertahan di Bandung sampai saatnya test UMPTN, meski puluhan lainnya memilih pulang setelah ditakut-takuti oleh Mas Budi, mahasiswa Teknik Pertambangan ITB yang sudah 8 tahun belum lulus.

Diterima di Matematika ITB bareng dengan Aminudin (adik mas Nasukha, BATAN) yang satu sekolah dan sama-sama jurusan fisika waktu SMA tapi belum pernah satu kelas, lucunya aku baru kenal di Bandung, hehe....terlalu !!! Dengan Amin lah episode kuliah dapat hidayah kumulai. Disuruh kakaknya yang di BATAN, Aminudin ngajak aku ikut dauroh bersama temen-temen alumni Bimbel Nurul Fikri Jakarta. Orang yang mesti kami temui saat itu, begitu pesan mas Nasukha, adalah bang Tif, yang sekarang jadi MenKomInfo sejak 2009 kemarin. Pencerahan-pencerahan tentang Islam yang aku dapatkan selama mengikuti dauroh. Islam, agama yang kuanut sejak lahir, baru aku kenal dengan baik tahun 1990-an.

Bersama Aminudin dan temen-temen alumni bimbel NF kulalui liqo' pekanan dengan Bang Tif (Tifatul Sembiring). Beliau bolak balik Jakarta – Bandung setiap pekan. Dengan tas ransel dipunggung penuh berisi buku-buku kecil/saku, barang dagangan bang Tif saat itu. Kebanyakan buku-buku terbitan Asaduddin Press dan editornya Abu Fathan, itu semua identitas bang Tif. Jadi editor, percetakan dan distributor sekaligus. Luar biasa yah? Sekitar satu tahun kami jalani ngaji pekanan dengan bang Tif untuk kemudian, entah karena demi efektivitas waktu dan tenaga beliau, liqo’ kami dipindah ke bang Ojid (Syamsu Rosyid) dosen UI yang sedang kuliah S2 di ITB. Cukup lama kami ngaji dengan bang Ojid sampai beliau kelar S2 di ITB dan kembali ke UI Depok. Sehingga gantian kami yang bolak-balik Bandung – Jakarta tiap pekan.

Selain liqo’ dengan teman-teman alumni bimbel NF, aku dan Aminudin juga ikut grup ngaji dengan kakak kelas di Matematika ITB. Dengan mentor mas Masrur pada awalnya dan dilanjutkan oleh mas Kosala Dwija Purnomo. Dari kedua liqo’ tsb lah aku sedikit-sedikit mulai tahu tentang jalur koordinasi liqo’ tarbiyah. Dengan teman-teman NF diidentifikasi sebagai jalur Jakarta sedangkan dengan teman-teman jurusan sebagai jalur Bandung. Kenapa jalur Jakarta tidak menyerahkan saja ke ikhwah Bandung? Ternyata salah satu alasannya adalah jalur Bandung kurang rapih karena ada beberapa liqo’ yang sebelumnya diserahkan ke jalur Bandung namun bubar. Wallohu a’lam.

Minggu, 21 Agustus 2011

Bismillah......

Meski tergolong telat alias kasep, akhirnya aku mulai juga menulis di blog ini. Semata catatan pribadi sekaligus belajar nulis uneg-uneg yang sering tidak ter-record dimanapun sampai akhirnya 'menguap' entah kemana....

Juga sembari mengingat-ingat kembali penggalan-penggalan perjalanan hidupku yang mengalir begitu saja......

Sekali lagi, bismillahirrohmanirrohiim......